Bone, Sulawesi Selatan – Salah satu mahasiswa Universitas Andi Sudirman (UNIASMAN) menyampaikan kritik keras terhadap praktik kuliah online yang masih sering dilakukan oleh sebagian dosen, meski pandemi COVID-19 telah lama berakhir. Ia menilai kebijakan tersebut semakin memberatkan mahasiswa dan tidak lagi memiliki alasan yang kuat untuk dibenarkan.
.”Kuliah online itu dulu wajar saat masa COVID-19, tapi sekarang sudah tidak ada lagi alasan yang jelas untuk terus dilakukan. Sistem pembelajarannya tidak kondusif bagi kami sebagai mahasiswa, apalagi sering terkendala jaringan dan komunikasi yang tidak efektif,” ujarnya dengan tegas.
Mahasiswa itu juga menyoroti ketimpangan dalam penerapan aturan kehadiran. Menurutnya, mahasiswa yang terlambat beberapa menit langsung tidak diizinkan masuk kelas, sementara dosen yang sering mengganti kuliah tatap muka menjadi daring justru dibiarkan tanpa sanksi, hak untuk mendapat pembelajaran layak malah diabaikan. Mahasiswa hanya ingin keadilan: kalau mahasiswa wajib disiplin, dosen pun seharusnya begitu,” tambahnya.
Lebih jauh, keresahan mahasiswa semakin meningkat setelah muncul pernyataan dari salah satu dosen yang mengaku tidak dapat hadir mengajar karena tidak diberikan biaya transportasi oleh pihak kampus.
Kami tidak mendapat biaya transportasi, jadi terkadang kuliah dilakukan secara online,” ungkap salah satu dosen Universitas Andi Sudirman.
Pernyataan ini menimbulkan banyak tanda tanya. Mahasiswa menilai alasan tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran, mengingat setiap dosen telah menyepakati kontrak mengajar sejak awal semester.
Kalau memang tidak siap untuk mengajar secara langsung, kenapa masih menerima kontrak? Kami yang dirugikan, karena kualitas pembelajaran jadi menurun,” tegas mahasiswa yang enggan disebutkan identitasnya.
Mahasiswa berharap pihak kampus segera meninjau ulang kebijakan perkuliahan dan menegakkan disiplin bagi dosen agar sistem pendidikan kembali berjalan adil, transparan, dan berpihak pada mutu akademik.







